Dari Wina ke Yogyakarta : kisah hidup Herb Feith
PURDEY, Jemma ; BUDIMAN, Santi ; PRIMANDA, Andya
Tersedia di:
Deskripsi
Herb Feith datang ke Australia sebagai pengungsi Yahudi dari Eropa yang dilanda perang pada 1939, lalu menjadi ahli Indonesia yang terkenal dan berdedikasi. Dia meninggal secara tragis di Melbourne pada 2001. Feith merupakan sosok inspiratif yang menjadi pelopor dalam hubungan Australia dan Indonesia, seorang sukarelawan dan pegawai negeri sipil yang bekerja bersama orang Indonesia, cendikiawan, analis, dan pengajar terkemuka, juga seorang aktivis yang berjuang demi kaum lemah dan tertindas di Indonesia dan di seluruh dunia. Dia merintis program terkenal yang sekarang bernama Australian Volunteers International. Inilah kisah Herb Feith dan beraneka prestasi luar biasanya. Indonesia merupakan pusat karya, ilmu, dan aktivisme Feith selama lima puluh tahun, sehingga buku ini juga mengisahkan masa penuh gelora dalam sejarah Indonesia serta riwayat hubungan Indonesia dan Australia. ; Bibliografi : hlm. 515-535
Ulasan
Buku Rekomendasi Lainnya
101 cerita bijak dari Korea : symphony of life from the land of the morning calm
RINURBAD
First Love
NURMAWAN, Imam
Komunikasi Politik Suatu Pengantar
NASUTION, Zulkarimein
101 (+bonus 20) ide keren : iklan powerful untuk bisnis anda berawal dari buku ini!
GRIFFITHS, Andrew ; KURNIAWAN, Andiek ; WIBOWO, Jessica
Seni Memperhatikan
MAYEROFF, Milton
Ternak Kelinci
KARTADISASTRA, HR
Manajer juara : apa yang diketahui, dilakukan, dan dikatakan manajer terbaik
PEELING, Nic ; SATYADEWA, Dicky ; HANANTI, Niken ; PURBA, Daniel P.
Pintar ngomong bahasa inggris itu gampang
JUNIARTO
Selling Without Talking
Rezza Anggara ; Mira R. ; Linda Irawati
Rahasia pengobatan dalam islam
Al-Kaheel, Abdel Daem ; Abdel Daem Al-Kaheel ; Muhammad Misbah ; Achmad Zirzis ; Nur Laily Nusroh
Menyayangimu
-
Habib syech
Ahmad Zainal Abidin (Pengarang)
Rica-rica : kisah anak manusia di sepanjang jalan kenangan (jilid 2)
Cornelis Kowaas (Pengarang)
Mudah dan praktis bertanam sayuran yang menyehatkan
Padmiarso M. Wijoyo (Pengarang)