Pangeran Ashoka (78-79)
Wytze Keuning (Pengarang)
Deskripsi
Cerita Bersambung Karya Wytze Keuning Diterjemahkan oleh Makmoer Soerjanagoro di terbitkan Surat kabar Pikiran Rakyat di Bandung pada tahun 1990 berjudul Pangeran Ashoka Menceritakan dibawah terik matahari matahari bumi Aryavartha yang menyengar penunggang kuda itu memacu kudanya dengan kencang dari kamp tentara Maurya menuju ke ibukota negara, Pataliputra , di sepanjang jalan yang dilaluinya orang-orang berdiri dengan takzimnya sebagai tanda rasa hormat kepadanya, sekalipun udara yang berdebu terasa demikian panas mendera punggung mereka Kulit tubuh penunggang kuda yang ugal-ugalan itu berwarna kuning mengkilat seperti perunggu dari balik wajahnya yang jelek dan kasar itu terbayang semanagat dan kepribadian yang sangat kuat dan energik Ashoka tidak ingin membunuh Devakaa tetapi ia ingin mengetahui semua rencana yang di milikinya tuaan...aku telah menolah hidupku dikorbankan untuk suamiku Kasaka kalau aku diberi kesempatan melayani pangeran jalang penolongku aku selalu siap sedia berkorban untuk dia sekalipun yang ku pertaruhkan adalah nyawaku sendiri
Ulasan
Koleksi Terkait
Pangeran Ashoka (1-3)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (6-7)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (8-9)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (13)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (16-17)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (18-19)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (20-21)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (23-24)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (25-26)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (27-28)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (29-30)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (31-32)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (33-34)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (35-36)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (37-38)
Wytze Keuning (Pengarang)
Koleksi Rekomendasi Lainnya
Wartawan senior dari Banjarmasin
Roso (Pengarang)
Dialog enam di Balai Budaya
Sides Sudyarto DS (Pengarang)
Di Lintasan mendung (10)
Navis, A. A. (Ali Akbar) (Pengarang)
Membebaskan anak yatim dari putus sekolah
Nugroho BW (Pengarang)
Timbangan buku, sastra dalam kapita selekta
Cicik Sandhykal (Pengarang)
Senja jatuh di Pajajaran. bagian 71-80
Aan Merdeka Permana (Pengarang)
Seorang pendatang
K. Usman (Pengarang)
Gus Dur berperkara itu biasa
Abdurrahman Wahid (Pengarang)
Mengadili HB. Jassin
Abu Az Zaaky (Pengarang)
Mimbar Bahasa Indonesia - Bahasa Indonesia yang baik dan benar
Soewardi Idris (Pengarang)
Kita jumpa
Krenak, Wolas (Pengarang)
Cerbung seberkas cahaya dikeredupan senja bahagian 41
Sri Mulyati (Pengarang)
Budaya dan iklan
Suharko (Pengarang)
Sawan puisi-puisi Korrie Layun Rampan
Herman Ks (Pengarang)