Pangeran Ashoka (83)
Wytze Keuning (Pengarang)
Deskripsi
Cerita Bersambung Karya Wytze Keuning Diterjemahkan oleh Makmoer Soerjanagoro di terbitkan Surat kabar Pikiran Rakyat di Bandung pada tahun 1990 berjudul Pangeran Ashoka Menceritakan dibawah terik matahari matahari bumi Aryavartha yang menyengar penunggang kuda itu memacu kudanya dengan kencang dari kamp tentara Maurya menuju ke ibukota negara, Pataliputra , di sepanjang jalan yang dilaluinya orang-orang berdiri dengan takzimnya sebagai tanda rasa hormat kepadanya, sekalipun udara yang berdebu terasa demikian panas mendera punggung mereka Kulit tubuh penunggang kuda yang ugal-ugalan itu berwarna kuning mengkilat seperti perunggu dari balik wajahnya yang jelek dan kasar itu terbayang semanagat dan kepribadian yang sangat kuat dan energik Ashoka tidak ingin membunuh Devakaa tetapi ia ingin mengetahui semua rencana yang di milikinya tuaan...aku telah menolah hidupku dikorbankan untuk suamiku Kasaka kalau aku diberi kesempatan melayani pangeran jalang penolongku aku selalu siap sedia berkorban untuk dia sekalipun yang ku pertaruhkan adalah nyawaku sendiri
Ulasan
Koleksi Terkait
Pangeran Ashoka (1-3)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (6-7)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (8-9)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (13)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (16-17)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (18-19)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (20-21)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (23-24)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (25-26)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (27-28)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (29-30)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (31-32)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (33-34)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (35-36)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (37-38)
Wytze Keuning (Pengarang)
Koleksi Rekomendasi Lainnya
Kamus Indonesia belanda : tinjauan buku
Teeuw, A., 1921-2012 (Pengarang)
Di Lintasan mendung (7)
Navis, A. A. (Ali Akbar) (Pengarang)
Harta untuk mamayu hayuning bawana
Triyanto Triwikromo & Hendro Basuki (Pengarang)
Demokrasinya Gus Dur (1)
Abdurrahman Wahid (Pengarang)
Macbeth dalam versi Bali macam apa?
Percintaanku dengan Bung Karno : Seperti cerita Yurike Sanger kepada Kadjat Adrai
Sepekan Pramoedya di CCF Bandung
Pramoedya Ananta Toer (Pengarang)
Wawancara dengan Umar Yunus : H.B. Jassin yang anti teori
Afrizal Malna (Pengarang)
Hadiah Stalin untuk Prof. Dr. Priyono
Priyono (Pengarang)
Kartu lebaran dengan 'seni tinggi'
Agus Dermawan T (Pengarang)
Bobot sastra, kitsch & populer
Putu Arya Tirtawirya (Pengarang)
Hari-hari sibuk bagi haji Rendra
Budi Winarno (Pengarang)
Surat Hamsad Rangkuti untuk HB Jassin (30 April 1964)
Hamsad Rangkuti (Pengarang)
Bekisar merah, bagian 30
Ahmad Tohari (Pengarang)