Pangeran Ashoka (99-100)
Wytze Keuning (Pengarang)
Deskripsi
Cerita Bersambung Karya Wytze Keuning Diterjemahkan oleh Makmoer Soerjanagoro di terbitkan Surat kabar Pikiran Rakyat di Bandung pada tahun 1990 berjudul Pangeran Ashoka Menceritakan dibawah terik matahari matahari bumi Aryavartha yang menyengar penunggang kuda itu memacu kudanya dengan kencang dari kamp tentara Maurya menuju ke ibukota negara, Pataliputra , di sepanjang jalan yang dilaluinya orang-orang berdiri dengan takzimnya sebagai tanda rasa hormat kepadanya, sekalipun udara yang berdebu terasa demikian panas mendera punggung mereka Kulit tubuh penunggang kuda yang ugal-ugalan itu berwarna kuning mengkilat seperti perunggu dari balik wajahnya yang jelek dan kasar itu terbayang semanagat dan kepribadian yang sangat kuat dan energik Ashoka tidak ingin membunuh Devakaa tetapi ia ingin mengetahui semua rencana yang di milikinya tuaan...aku telah menolah hidupku dikorbankan untuk suamiku Kasaka kalau aku diberi kesempatan melayani pangeran jalang penolongku aku selalu siap sedia berkorban untuk dia sekalipun yang ku pertaruhkan adalah nyawaku sendiri
Ulasan
Koleksi Terkait
Pangeran Ashoka (1-3)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (6-7)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (8-9)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (13)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (16-17)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (18-19)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (20-21)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (23-24)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (25-26)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (27-28)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (29-30)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (31-32)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (33-34)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (35-36)
Wytze Keuning (Pengarang)
Pangeran Ashoka (37-38)
Wytze Keuning (Pengarang)
Koleksi Rekomendasi Lainnya
Safari budaya Asmat ke Eropa dibalik problema yang dilematis : Safari budaya Asmat ke Eropa bukanlah sekadar mempertontonkan seni tari-gerak dan memamerkan hasil karya seni ukir serta memberikan gambaran mengenai suku Asmat pada masyarakat Eropa. Melainkan tujuan dari "Safari" ini mempunyai latar belakang politis yang hingga kini terus berkembang dan adanya suara yang pro dan kontra.
Nirwanto Ki S. Hendrowinoto (Pengarang)
Apresiasi sastra: puisi itu konkret (2)
Supardi Djoko Damono (Pengarang)
Surat untuk Pamusuk Eneste dari Umar Junus (1 Oktober 1985)
Umar Junus (Pengarang)
Budaya tandingan mulai dibangkitkan kembali
Perawan kasmaran (191-195)
Widi Widayat (Pengarang)
Palang maut
Wawancara dengan Adnan Buyung Nasution : pers kita seperti kura-kura
Widitono (Pengarang)
Diah Hadaning: sastra dan generasi muda
Putu Arya Tirtawirya (Pengarang)
Kontak Diha (23 Juni 1991)
Diah Hadaning (Pengarang)
Dick Hartoko di Erasmus Huis : Pertanggungjawaban atas sebuah "pengkhianatan"
Susianna Darmawi (Pengarang)
Cerbung, lembah selaksa bunga bagian 93--94
Asmaraman S. Kho Ping Hoo (Pengarang)
Debu dalam mulutmu
Wawan Setiawan (Pengarang)
Surat ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri dari Daus-Rita untuk HB Jassin, 1 Syawal 1411 H.
Daus (Pengarang)
Chimera (bagian 15) : Cerbung karya Donny Anggoro
Donny Anggoro (Pengarang)