Idza Amalia Dzikrika
6 bulan yang lalu
kisah 25 nabi hal hal yg menarik cerita tentang orang yg zalim dan mendapatkan azab dari Allah SWT
Syawalla Agni Tanzania
6 bulan yang lalu
aku membaca cerita pulang ke Rahmatullah pada suatu hari ada sebuah ayah bernama suchari sebenarnya. sus hari itu mempunyai penyakit yang bernama kolesterol sebenarnya aku harus cari itu tidak boleh memakan daging kambing dan buah durian tetapi nekat makan daging kambing lalu istrinya pun bilang ayah kenapa kamu begitu banyak memakan daging kambing t iftitah pun bilang kata khusus hari kan itu emang hobi aku aku tuh hobinya makan dan tidur jadi kamu nggak usah larang-larang aku untuk memakan daging kambing terima kasih
AGAM ADYATAMA
6 bulan yang lalu
AKU MEMBACA BUKU DI PERPUSTAKAAN 'LET'S READ' JUDUL : "PERPUSTAKAAN LUAR BIASA". Disaat Kana dan Belu sedang mencari teman-teman. Ternyata teman-temannya ada disebuah takaan Perpustakaan.Kana dan Belu belum pernah ke Perpustakaan,Ia kaget setelah masuk kedalam Perpustakaan,ternyata banyak sekali Buku-buku didalamnya.Dipwrpustakaan banyak sekali Buku-buku cerita yang berwana warni.Teman-teman mereka senang sekali membaca buku berbagai buku cerita.Semua teman-teman yang mengikuti juga untuk datang ke Perpustakaan.Dan selesai dari Perpustakaan, mereka semua sangat senang dan bahagia telah datang ke Perpustakaan.Akhirnya mereka ingin sekali datang ke Perpustakaan lain kali.
Ade Maulana Fatih
6 bulan yang lalu
Kisah nabi ayub, hal yg menarik dari buku nabi ini kita bisa mempelajari kesabaran yg tiada tara seperti nabi ayub yg sudah di uji berbagai penyakit barpuluh puluh tahun tapi dia tetap sabar dengan penyakitnya
Keanu cakratungga
6 bulan yang lalu
saya senang sekali membaca.Mungkinkah kita memahami orang lain sepenuhnya—seberapa dalam pun kita mencintai orang itu? Haruki Murakami menjelajahi berbagai selip dan selisih yang mungkin terjadi dalam hubungan laki-laki dan perempuan melalui tujuh cerita dalam buku ini. Kita bisa becermin lewat pelbagai tokoh dalam beragam usia: siswi SMA; mahasiswa yang baru mulai kuliah; dokter bedah plastik, aktor, bartender, dan mereka yang sudah lewat tiga puluh maupun memasuki usia paruh baya. Yang unik, para laki-laki dalam kumpulan cerpen Lelaki-lelaki Tanpa Perempuan tidak sepenuhnya tanpa perempuan. Hampir semua justru punya pasangan atau kekasih, bahkan istri. Jadi siapa dan bagaimana yang disebut “Lelaki-lelaki Tanpa Perempuan” ini? Selling Point Kumpulan cerpen Haruki Murakami yang pertama terbit dalam bahasa Indonesia; berisi tujuh kisah cinta yang dialami oleh orang-orang dari berbagai usia dan ditulis dengan sangat baik. Sudah diadaptasi ke dalam film yang mendapatkan 4 nominasi Oscar. Sampulnya karya Naela Ali.
Kaysha Damayanti Studiarto
6 bulan yang lalu
Hal yang menarik yang aku catat untuk membaca buku Para Detektif Mungil Mengapa Bintang Berkelap-kelip adalah gambar cover buku yang menarik yaitu gambar roket, bukunya berukuran kecil, para detektifnya mungil-mungil.
Muhammad kaisar maizhan
6 bulan yang lalu
Judul: "Petualangan di Hutan Ramah"
Prolog
Di sebuah desa kecil yang dikelilingi oleh hutan lebat, tinggal seorang gadis bernama Lila. Sejak kecil, Lila selalu terpesona oleh keindahan alam di sekitarnya. Hutan adalah tempatnya bermain, belajar, dan berimajinasi. Suatu hari, saat membersihkan loteng, Lila menemukan peta tua yang menunjukkan lokasi "Pohon Harapan," sebuah pohon legendaris yang konon memiliki kekuatan untuk menjaga keseimbangan alam. Dengan rasa ingin tahu yang membara, Lila memutuskan untuk memulai petualangan yang akan mengubah hidupnya.
Bab 1: Menemukan Peta
Saat menggedor debu dari benda-benda tua di loteng, Lila menemukan peta kuno yang terlipat rapi. Peta itu terlihat usang, dengan garis-garis yang memudar dan tulisan tangan yang rumit. Di sudut peta terdapat gambar pohon besar dengan akar menjalar, serta tulisan: “Siapa yang menemukan Pohon Harapan, akan memahami rahasia alam.” Jantung Lila berdebar. “Aku harus menemukan pohon itu!” pikirnya.
Bab 2: Perjalanan Dimulai
Dengan ransel kecil yang berisi bekal, Lila memulai perjalanan. Dia melangkah ke dalam hutan, di mana suara burung berkicau dan cahaya matahari menerobos dedaunan. Lila mengagumi keindahan di sekelilingnya: burung-burung berwarna cerah terbang dari dahan ke dahan, dan kupu-kupu menari di antara bunga-bunga liar. Di tengah jalan, dia mendengar suara berisik di atas. Sebuah tupai kecil, Riko, melompat turun dari cabang pohon.
“Hey, siapa kamu?” tanya Riko dengan mata yang berbinar.
“Aku Lila. Aku sedang mencari Pohon Harapan. Mau ikut?” jawab Lila dengan semangat.
“Pohon Harapan? Tentu! Aku selalu ingin tahu lebih banyak tentangnya!” Riko melompat-lompat penuh kegembiraan, dan mereka pun melanjutkan perjalanan bersama.
Bab 3: Bertemu Sang Penjaga Hutan
Setelah berjalan beberapa jam, mereka tiba di sebuah area yang tampak berbeda. Hutan menjadi lebih rimbun, dengan pepohonan tinggi menjulang. Di tengah hutan, mereka melihat seorang pria tua dengan janggut panjang dan mata yang bijak. Dia mengenakan pakaian dari bahan alami dan dikelilingi oleh tanaman obat.
“Selamat datang, anak-anak. Aku Kakek Budi, penjaga hutan ini,” kata pria itu sambil tersenyum. “Apa yang kalian cari di sini?”
Lila menceritakan tentang pencarian mereka untuk menemukan Pohon Harapan. Kakek Budi mendengarkan dengan seksama.
“Pohon Harapan memang ada, tetapi untuk menemukannya, kalian harus belajar menjaga alam. Setiap makhluk di hutan ini memiliki peran penting. Mari, aku ajak kalian melihat sesuatu,” ujar Kakek Budi.
Bab 4: Pelajaran dari Alam
Kakek Budi membawa Lila dan Riko ke area di mana beberapa tanaman terlihat layu. “Ini adalah contoh bagaimana polusi dan pembuangan sampah merusak habitat,” kata Kakek Budi. Dia menunjukkan cara-cara menjaga lingkungan, mulai dari tidak membuang sampah sembarangan hingga pentingnya mendaur ulang.
“Setiap tindakan kecil bisa membawa perubahan besar. Mari kita bersihkan area ini,” ujar Kakek Budi. Dengan semangat, mereka mulai mengumpulkan sampah dan merawat tanaman yang sakit. Lila merasa bangga melihat perubahan kecil yang mereka lakukan.
Bab 5: Menemukan Keajaiban Alam
Setelah menyelesaikan tugas mereka, Kakek Budi mengajak mereka menjelajahi lebih jauh ke dalam hutan. Mereka menemukan berbagai keajaiban alam: bunga langka berwarna ungu yang hanya mekar di malam hari, air terjun kecil yang jernih, dan bahkan sarang burung dengan anak-anak burung yang baru menetas.
“Setiap keajaiban ini adalah bagian dari ekosistem. Tanpa satu pun dari mereka, alam tidak akan seimbang,” jelas Kakek Budi.
Lila dan Riko berdecak kagum, menyadari betapa menawannya alam ini. Di tengah perjalanan, mereka juga menemukan kolam yang dipenuhi dengan katak dan ikan kecil. Lila merasakan ketenangan saat melihat makhluk-makhluk itu hidup dengan harmonis.
Bab 6: Rintangan di Depan
Ketika mereka semakin dekat dengan lokasi Pohon Harapan, mereka menemui rintangan: sungai yang mengalir deras dan pohon-pohon tumbang yang menghalangi jalan. Lila merasa sedikit cemas. “Bagaimana kita bisa melanjutkan?” tanyanya.
“Jangan khawatir. Kita bisa membangun jembatan dari ranting dan batu,” jawab Riko dengan percaya diri.
Dengan kerja sama, mereka mulai mengumpulkan bahan-bahan dan merancang jembatan sederhana. Lila merasa senang ketika jembatan itu akhirnya bisa dilalui. “Kita bisa melakukan apa saja jika kita bekerja bersama,” katanya.
Bab 7: Menemukan Pohon Harapan
Setelah melalui berbagai rintangan, akhirnya mereka tiba di tempat Pohon Harapan berada. Pohon itu besar dan megah, dengan dedaunan hijau yang berkilau seperti berlian saat terkena sinar matahari. Lila merasakan energi positif mengalir dari pohon tersebut.
“Ini dia, Pohon Harapan!” seru Lila.
Saat Lila mendekat dan menyentuh batang pohon, dia mendengar suara lembut yang membimbingnya. “Jaga aku, dan aku akan menjaga hutan ini. Setiap makhluk, besar atau kecil, memiliki perannya. Jika kalian ingin memahami alam, belajarlah untuk mendengarkan dan menghormati.”
Bab 8: Kembali dengan Pengetahuan Baru
Setelah menghabiskan waktu di Pohon Harapan, Lila dan Riko merasa terinspirasi. Mereka kembali ke desa dengan hati penuh semangat. Lila segera mengajak teman-temannya untuk memulai proyek penghijauan di desa. Mereka berencana menanam pohon, membersihkan sungai, dan mengajak orang lain untuk berpartisipasi dalam menjaga lingkungan.
“Setiap orang bisa membuat perubahan, mulai dari hal kecil. Mari kita semua berkontribusi!” seru Lila saat mengumpulkan teman-temannya.
Bab 9: Menghadapi Tantangan
Namun, tidak semua orang di desa setuju dengan ide-ide Lila. Beberapa penduduk merasa bahwa menjaga lingkungan bukanlah prioritas. Mereka lebih fokus pada pekerjaan sehari-hari. Lila merasa putus asa, tetapi Riko memberinya semangat.
“Kita bisa menunjukkan kepada mereka betapa pentingnya alam. Mari kita adakan festival untuk merayakan hutan!” usul Riko.
Dengan semangat baru, Lila dan Riko mulai merencanakan festival. Mereka mengundang semua orang di desa, mengatur berbagai kegiatan, seperti lomba menanam pohon, permainan edukatif, dan pameran seni yang terinspirasi oleh alam.
Bab 10: Festival Hutan
Hari festival tiba, dan seluruh desa berkumpul di hutan. Dengan penuh warna, anak-anak berlarian sambil membawa bibit pohon. Kakek Budi memberikan ceramah tentang pentingnya menjaga hutan. Lila dan Riko mengadakan lomba menanam pohon, dan semua orang berpartisipasi dengan antusias.
Melihat keceriaan dan semangat kebersamaan, warga desa mulai menyadari pentingnya menjaga lingkungan. Mereka melihat betapa berartinya hutan bagi kehidupan mereka dan mulai berkomitmen untuk melindunginya.
Epilog: Harapan untuk Masa Depan
Berkat usaha Lila, Riko, dan Kakek Budi, desa menjadi lebih hijau dan asri. Mereka membentuk komunitas peduli lingkungan yang berkomitmen untuk menjaga hutan dan alam di sekitar mereka. Lila tahu bahwa hutan dan alam adalah bagian dari kehidupan mereka, dan menjaga keseimbangan alam adalah tanggung jawab bersama.
Setiap kali Lila berjalan di hutan, dia melihat pohon-pohon yang mereka tanam tumbuh dengan subur. Dia ingat betapa pentingnya menjaga hubungan antara manusia dan alam. Dengan harapan baru, Lila berjanji untuk terus berjuang demi kelestarian lingkungan.
Pesan Moral
Cerita ini mengajarkan bahwa setiap individu memiliki peran dalam menjaga lingkungan. Melalui kerja sama dan komitmen, kita bisa membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Setiap tindakan kecil, seperti menanam pohon atau membersihkan sampah, memiliki dampak yang besar terhadap keberlangsungan hidup di bumi.